ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
![]() |
| Papa, Kembalikan tangan Ita….! Ita janji tidak nakal lagi, papa! |
Untuk para orang tua yang anaknya kreatif,
jangan lagi dipukul ya.. Tolong baca kisah
nyata yang menyentuh hati ini, cerita tentang seorang anak kecil bernama Ita yang
memohon pada papanya untuk kembalikan tangannya.
Sebagai orang tua
kita patut menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati.
Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa.
Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa.
Mengajar dan
memberikan pembelajaran dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di
kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah
tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.
Dia bermain diluar
rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya,
ataupun memetik bunga matahari,
bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia
melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi
karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada
mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu berwarna putih, coretannya tampak
jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan
ibunya mengendarai motor ke
tempat kerja karena jalan macet.
Setelah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke sebelah
kiri mobil. Dibuatnya gambar ayam dan
gambarnya sendiri dan sebagainya untuk mengikuti imaginasinya. Kejadian itu
berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu,
terkejutlah ayah ibunya
melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum
lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, ‘Kerjaan siapa ini?’ Pembantu rumah
yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar.
Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !’ ‘Kamu
dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?’ hardik si isteri lagi. Si
anak yang mendengar suara ayahnya,
tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata ‘Ita yg membuat
itu papa…. cantik kan!’ katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti
biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari
pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak
tangan anaknya.
Si anak yang tak
mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul
telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah
merestui dan merasa puas dengan hukuman
yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si
bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak
masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke
kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka
dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis.
Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu
terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak
sengaja membiarkan anak itu tidur bersama
pembantu rumah.
Keesokkan harinya,
kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. ‘Oleskan obat
saja!’ jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan
anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau
mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya
sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
‘Ita demam…’ jawab pembantunya ringkas.
‘Kasih minum obat penurun panas ,’ jawab
si ibu.
Sebelum si ibu
masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita
dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan
Ita terlalu panas. ‘Sore nanti kita bawa ke klinik’ kata majikannya itu. Sampai
saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke
rumah sakit karena keadaannya
serius. Setelah seminggu di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.
‘Tidak ada
pilihan..’ katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi
karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
‘Tangannya sudah
bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku
ke bawah’ kata dokter.
Si bapak dan ibu
bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti
berputar, tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak.
Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar
menandatangani surat persetujuan
pembedahan.
Keluar dari bilik
pembedahan, selepas obat bius yang
disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua
tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke
wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam
siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
‘Papa.. Mama… Ita
tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.’
katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
‘Ita juga sayang
Kak Narti..’ katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis
itu meraung histeris.
‘Papa.. kembalikan
tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi!
Bagaimana caranya Ita mau makan nanti?
Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,’
katanya berulang-ulang.
Serasa copot
jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun
takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
—
Pelajaran yang sangat berharga buat para orang tua, anak nakal itu biasa, kalau anak kecil terluka, berilah perhatian sendiri pada anak dan jangan bergantung pada pembantu. karena mereka sejatinya hanya membantu. Tugas utama mendidik anak ada di tangan anda!!!
Pelajaran yang sangat berharga buat para orang tua, anak nakal itu biasa, kalau anak kecil terluka, berilah perhatian sendiri pada anak dan jangan bergantung pada pembantu. karena mereka sejatinya hanya membantu. Tugas utama mendidik anak ada di tangan anda!!!

0 Response to "Papa, Kembalikan tangan Ita….! Ita janji tidak nakal lagi, papa!"
Posting Komentar